Facebook Twitter Google RSS

Thursday, 23 March 2017

Turis Asal Cina Keliling Jual Pakaian, 'Hap' Lalu Ditangkap

Unknown     16:12  
Lhokseumawe - Hong Junzhong, 54 tahun, warga Guangdong, Cina pemegang paspor nomor E92533615 ditangkap sedang berjualan pakaian di Rantau Panjang, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Kini Hong Junzhong ditahan di kantor imigrasi Langsa karena menyalahi izin tinggal.

Afrizal Kepala seksi pengawasan dan penindakan keimigrasian Kota Langsa, mengatakan, Hong Junzhong telah melanggar Undang-Undang Keimigrasian Indonesia pasal 122 nomor 6 tahun 2011 tentang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian Izin Tinggal yang diberikan kepadanya.

"Ia terancam hukuman maksimal lima tahun dan pidana denda maksimal 500 juta,” kata Afrizal, Rabu, 22 Maret 2017.

Dia menambahkan, secara aturan tersangka dapat ditahan selama 30 hari, namun bila dalam seminggu ada keputusan dari kantor Kemenkumham wilayah, maka tersangka akan langsung diproses secara hukum yang berlaku.

Sebagaimana diketahui Hong Junzhong ditangkap, Senin, 20 Maret 2017, kala itu ia sedang menjual pakaian jadi keliling dengan menggunakan Mobil Kijang Inova, di Desa Kliet, Kecamatan Rantau Perlak, Kabupaten Aceh Timur, karena merasa aneh dengan logat bahasa Junzhong, akhirnya warga melaporkannya ke pihak kepolisian Aceh Timur, ketika diperiksa Junzhong tidak menunjukkan visa yang sesuai dengan kegiatannya, ia hanya menunjukkan visa kunjungan wisata (turis).

Bersamnya turut diamankan barang bukti berupa paspor dari Kedutaan Cina atas nama Hong/Junzhong, barang dagangan berupa baju kaos dan celana, 13 buah jam tangan, dan uang tunai Rp 9.933.000. IMRAN. MA

Pelaku Penembakan Aceh Timur Dibekuk, Motifnya Persaingan Pilkada

Unknown     15:57  
Lhokseumawe – Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh dan anggota Polres Aceh Timur menangkap AR alias Agus, 31 tahun, dan MJ alias Jais, 30 tahun, dua dari empat pelaku penembakan terhadap Juman, 51 tahun dan Misno, 35 tahun, warga Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. Sedangkan dua pelaku lainnya, Z Alias Nato dan C alias Cangguk, masih buron. 

Agus ditangkap pada Minggu, 19 Maret 2017, di sebuah tempat kos di Kota Langsa. Sedangkan Jais ditangkap di sebuah rumah di Desa Paya Ketenggar, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Agus menjabat sebagai Panglima Sago Peunaron (jabatan setingkat koramil dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka), sementara Jais merupakan anggota satuan tugas partai lokal di Aceh.

Baca: Polisi Selidiki Motif Penembakan pada 2 Warga Aceh Timur 

“Benar dua telah ditangkap, mereka AR dan MJ, sementara Z  dan C masih dalam pengejaran,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Aceh Komisaris Besar Goenawan, Selasa, 21 Maret 2017

Goenawan menuturkan penembakan tersebut direncanakan oleh Agus. Mereka mengadakan rapat di Desa Pasir Putih, Kecamatan Rantau Peureulak yang dihadiri oleh Jaiz, Cangguk dan Nato. Ahad dini hari, 5 Maret 2017, mereka bergerak menuju rumah Juman. Untuk membangunkan korban, pelaku membakar kain dan mobil Taft. 

Setelah korban bangun dan membuka pintu,  Nato dan Cangguk melepaskan tembakan. “Menurut pengakuan, motif pelaku karena merasa sakit hati dengan korban karena diejek kalah usai perhitungan suara pilkada di wilayah Peunaron," kata Goenawan.

Simak: Pengumpul Sawit di Aceh Timur Ditembak Orang Tak Dikenal
Goenawan menambahkan dari identifikasi polisi, pelaku menggunakan senjata laras panjang M.16. Saat dilakukan olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan 10 selonsong peluru, dan dua butir peluru M.16 yang belum meledak. “Sekarang polisi sedang bekerja memburu dua pelaku lainnya,” ujar Goenawan

Kondisi Juman dan Misno makin membaik setelah menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh. Juman adalah tim sukses pasangan pasangan Bupati Aceh Timur Ridwan Abu Bakar – Tengku Andul Rani, adapun untuk pilkada gubernur Juman menjadi tim sukses pasangan nomor urut 6 Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah. 

IMRAN MA

Saturday, 25 October 2014

Aktivis Leuser dan Pejabat Tutup 1.040 Hektare Sawit

Unknown     21:25  
Lhokseumawe - Dinas Kehutanan Provinsi Aceh dan Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Tamiang bekerja sama dengan aktivis Forum Konservasi Leuser (FKL) untuk menutup 1.040 hektare perkebunan sawit milik warga dan perusahaan yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser, Senin, 29 September 2014.

"Penumbangan enam pohon sawit hari ini penanda akan dilakukan penumbangan perkebunan yang masuk dalam kawasan Leuser. Pertama kalinya di jalur tapal batas," kata Koordinator FKL Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Tejar Fahlevi, di sela acara seremoni Restorasi Batas Hutan Lindung di Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun.

Tejar mengatakan inventarisasi tapal batas Kawasan Ekosistem Leuser atau kawasan hutan lindung di Kabupaten Aceh Tamiang sebenarnya telah dilakukan pada 2008. Saat itu upaya dilakukan oleh sejumlah aktivis lingkungan, termasuk Rudi Putera, penerima Green Nobel Goldman Prize 2014 yang kini adalah Ketua FKL.

Kepala Dinas Kehutanan Aceh Husaini Syamaun dalam acara ini mengatakan pihaknya akan mengembalikan kawasan hutan yang telanjur ditebang dan ditanami sawit. Usaha ini tentu tak bisa berlangsung singkat. "Kami mengajak masyarakat untuk sama-sama menjaga. Kalau sudah telanjur rusak, susah untuk dikembalikan ke kondisi semula," katanya.

Dinas Kehutanan Provinsi Aceh, Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Tamiang, dan FKL akan melakukan koordinasi untuk menjaga kawasan hutan lainnya. "Kita akan duduk bersama untuk membahas restorasi berikutnya," kata Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Tamiang, Alfuadi, di kesempatan yang sama.

Upaya pemerintah dan aktivis Leuser menutup perkebunan sawit milik perusahaan swasta dan warga dilakukan untuk menjaga lestarinya Kawasan Ekosistem Leuser, salah satu paru-paru dunia. IMRAN MA| TEMPO

Tuesday, 14 October 2014

Eks Kombatan Tuntut Tanggung Jawab Petinggi Aceh

Unknown     16:28  
TEMPO.CO Lhokseumawe - Sebuah kelompok bersenjata yang dipimpin Nurdin alias Din Minimi terang-terangan menyatakan dirinya melawan pemerintah Aceh. Kelompok mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peureulak Aceh Timur itu kecewa terhadap pemerintah Aceh yang tidak mempedulikan nasib mereka. "Kami bangkit untuk menuntut keadilan," kata Nurdin alias Din Minimi dalam keterangan melalui telepon kepada wartawan, Ahad, 12 Oktober 2014.

Nurdin menilai Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf, mantan petinggi GAM, harus bertanggung jawab atas kehidupan mantan anak buahnya, janda korban konflik, anak yatim, dan masyarakat Aceh yang hingga kini tidak jelas hidupnya. Sementara itu, banyak para petinggi GAM lain yang hidupnya sejahtera.

Pada Jumat, 10 Oktober 2014 lalu, Nurdin sempat unjuk gigi dengan berpose membawa senjata laras panjang di sebuah pondok di pedalaman Aceh Timur. Saat itu, Nurdin tampil bak panglima GAM pada masa perang, diapit dua pengawal dengan memegang senjata laras panjang, dipadu dengan kaus singlet loreng simbol Gerakan Aceh Merdeka.

Humas Pemerintah Aceh Murthalamuddin bereaksi atas pernyataan Din Minimi. Dia meminta agar situasi damai Aceh hari ini tak dirusak. "Mari lihat perdamaian ini dengan mata hati sehingga lebih jernih dalam melihat berbagai persoalan, dan mari kita selesaikan persoalan dengan duduk dan berbicara dengan hati," kata Murthalamuddin.

Kepala Kepolisian Resor Aceh Timur AKBP Muhajir menyebut Din Minimi adalah kelompok yang terlibat dalam serangkaian aksi kriminal di Aceh Timur. "Kelompok tersebut menjadi target utama Polres Aceh Timur. Kelompok bersenjata yang meresahkan warga tidak ditoleransi polisi," kata Muhajir.

IMRAN MA | ADI WARSIDI

Wednesday, 8 October 2014

Kecelakaan Maut Satu Keluarga Warga Lhoksukon Meninggal

Unknown     21:32  
Lhokseumawe - Kecelakaan tragis terjadi di Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, tepatnya di Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Selasa sore, 7 Oktober 2014.

Kecelakaan itu melibatkan Toyota Avanza dengan mobil penumpang yang dikenal dengan nama Jumbo oleh penduduk setempat. Satu keluarga warga Aceh Utara meninggal, termasuk bayi 1 tahun.

Insiden tragis yang merenggut lima orang warga Lhoksukon Aceh Utara itu berawal pada pukul 16.00 WIB. (Baca: Selalu Ada Kecelakaan Mobil Mewah di Jakarta)

Saat itu, angkutan umum jenis Jumbo dengan nomor polisi BL-7543-ND yang dikemudikan oleh Syaharuddin, 35 tahun, warga Desa Sama Dua, Kecamatan Peudawa Aceh Timur, melaju dari arah Lhokseumawe menuju Idi. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, melaju satu unit mobil Toyota Avanza berpelat nomor BL-792-NN warna hitam yang disopiri Ridwan, 49 tahun, warga Arun Lhoksukon, Aceh Utara, mengambil jalur kanan.

Kecelakaan pun tak terhindarkan. Kendaraan Syaharuddin langsung bertabrakan dengan Avansa. Akibatnya, penumpang Avanza, Ridwan, 49 tahun, bersama istrinya, Salbiah, 28 tahun, warga Aron Lhok Sukon, Aceh Utara, bersama tiga anaknya yang masing-masing berusia 1 tahun, 2,5 tahun, dan 3,5 tahun tewas di tempat.

Sedangkan tujuh penumpang jumbo menderita luka-luka dan dirawat di tiga rumah sakit, termasuk di RSU Daerah Idi, Aceh Timur. Insiden kecelakaan ini dalam penanganan Kepolisian Resor Aceh Timur. Mobil penumpang Jumbo dan Avanza yang remuk bagian depan telah ditarik ke kantor polisi.
IMRAN MA | TEMPO

Monday, 8 September 2014

Bendera Isis Di Aceh Timur

Unknown     21:27  
Lhokseumawe - Selembar bendera kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ditemukan berkibar di atas pohon kelapa di Desa Buket Drin, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, pada Ahad, 7 September 2014.

Menurut Kapolsek Sungai Raya Iptu Azwan, bendera ISIS itu pertama kali terlihat oleh warga yang sedang main catur di sebuah warung di desa setempat. "Kemudian kita datang, tim dari Jibom mensterilkan lokasi, lalu atas bantuan petugas PLN kita ambil bendera tersebut," ujar Iptu Azwan.

Bendera tersebut dipasang di atas pohon kelapa yang diikat oleh satu kaleng susu dengan lilitan kabel. Ternyata setelah dibuka kaleng tersebut hanya berisikan kerikil dan plastik.

Peristiwa pengibaran bendera kelompok yang sedang mempersiapkan diri untuk mendirikan negara Islam di Irak dan Suriah itu merupakan kasus yang pertama kali terjadi di Aceh.
IMRAN MA | TEMPO

Wednesday, 27 November 2013

FREE! Pertamina EP Usut Pencurian Minyak di Aceh

Anonymous     15:38  

PT Pertamina EP langsung menginvestigasi pencurian minyak dan pencemaran lingkungan di Peurlak, Nanggroe Aceh Darussalam. Aktivitas pengeboran minyak ilegal itu dinilai sudah semakin meresahkan dan merusak lingkungan. "Pencurian juga terjadi di bekas daerah operasi Pacific Oil and Gas (POG)," kata Public Relations Manager Pertamina EP, Agus Amperianto, kemarin.

Pencurian itu terbongkar setelah terjadi ledakan di area pengeboran ilegal di Peurlak. Ternyata kebakaran itu disulut oleh pengeboran minyak mentah ilegal di Desa Pertamina, Kecamatan Ranto Panjang, Aceh Timur. 
Menurut Agus, pada Kamis pekan lalu, pengebor ilegal itu berhasil mengeluarkan semburan minyak mentah. Minyak mentah yang sudah keluar itu dikumpulkan dalam beberapa drum. "Sebagian menyembur ke sekitar area pengeboran ilegal itu," ujarnya. Minyak mentah yang keluar bercampur dengan gas langsung menyulut api dari rokok yang dinyalakan para pekerja ilegal.
Pertamina EP Region Sumatera Field Rantau Kuala Simpang lalu bekerja sama dengan kepolisian Aceh Timur menghentikan penambangan ilegal tersebut. "Kami sudah berbicara dengan Kepala Polres agar aktivitas ini langsung distop," kata Azhari, Staf Operasi Security Pertamina Rantau, kepada Tempo di Lhokseumawe. 
Camat Ranto Peureulak, Zulbahri, mengakui adanya pencurian minyak di wilayahnya. Dia juga mengungkapkan pengeboran dilakukan dengan memakai peralatan pengeboran sederhana, yaitu dengan memasang pipa besi 2 inci pada sekitar 130 sumur yang tersebar di tiga desa. "Tapi hanya puluhan sumur yang mengeluarkan minyak," katanya. 
Anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat, Satya Widya Yudha, menyatakan pencurian minyak marak karena disparitas harga bahan bakar minyak bersubsidi dan nonsubsidi sangat tinggi. Ia menduga, sebagian besar minyak curian disalurkan dan sedikit untuk konsumsi pribadi. "Pencurian ini sebenarnya kasatmata, tapi tidak ditindak," ucap Satya saat dihubungi kemarin. 
Direktur Energy Watch Indonesia, Mamit Setiawan, menambahkan, penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi marak terjadi di wilayah perbatasan. "Seperti di wilayah yang berbatasan dengan Malaysia, Filipina, serta Timor Leste," katanya saat dihubungi kemarin.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) perwakilan Sumatera menemukan 20 kasus pencurian minyak hanya dalam waktu sebulan. Head of Representative SKK Migas Sumatera Selatan, Tirat Sambu Ichtijar, mengatakan sepanjang 2013 terdapat tidak kurang dari 660 kasus pencurian minyak mentah di sepanjang jalur pipa Tempino di Jambi hingga Plaju di Palembang.IMRAN MA (LHOKSEUMAWE) | PARLIZA (PALEMBANG) | MARIA YUNIAR | Koran RABU, 27 NOVEMBER 2013

Friday, 8 November 2013

Sabu dan Ganja Di LP Lhokseumawe

Unknown     00:42  
Lhokseumawe |Beritaloen - Tim gabungan dari kepolisian dan TNI menemukan 17 paket ganja kering siap edar dan satu gram sabu-sabu dalam operasi penggeledahan di Lembaga Permasyarakatan Klas IIA Lhokseumawe, Rabu, 6 November 2013.

“Operasi penggeledahan merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Setiap LP harus bersih dari HP, Pungli dan Narkoba,” kata Kepala LP Lhokseumawe Drais.

Drais menjelaskan, masing-masing paket ganja kering siap edar tersebut berukuran 2 X 3 centimeter. Tim gabungan yang juga melibatkan petugas LP, juga menemukan 1 ons biji ganja, alat isap sabu-sabu, serta 30 telepon seluler. Seluruh barang temuan telah disita dan diserahkan kepada pihak kepolisian.

Menurut Drais, ganja dan sabu ditemukan di luar barak 4 A. Sedangkan 1 ons biji ganja dan alat isap sabu-sabu ditemukan di luar sel karantina. Adapun 30 unit telepon seluler ditemukan didalam barak 9. ”Belum diketahui siap pemilik barang-barang tersebut,” ujarnya.

Drais menduga narkoba yang ditemukan tersebut kemugkinan bersumber dari pengunjung. Sebab, 60 persen penghuni LP Lhokseumawe adalah mereka yang terlibat kasus narkoba. ”Kami akan tingkatkan pengawasan,” ujarnya. IMRAN MA |TEMPO.CO |

Pemilik Narkoba di LP Lhokseumawe Sedang Diselidiki Polisi

Unknown     00:38  
Lhokseumawe | Beritaloen - Kepala Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Lhokseumawe, Iptu Sofyan, mengatakan pihaknya masih menyelidiki pemilik ganja dan sabu-sabu yang ditemukan di dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Lhokseumawe. “Kami juga menyelidiki siapa pemasok ganja dan sabu-sabu tersebut,” kata Sofyan, Kamis, 7 November 2013.

Menurut Sofyan, ganja dan sabu-sabu itu ditemukan di luar kamar narapidana, dan diduga sengaja dibuang sesaat sebelum dilakukan penggeledahan. “Kami harus bisa mengungkapnya karena diduga ada jaringan antara bandar dan pengedar di dalam dan di luar LP,” ujar Sofyan.

Diberitakan sebelumnya, tim gabungan dari kepolisian dan TNI, Rabu, 6 November 2013, menemukan 17 paket ganja kering siap edar dan 1 gram sabu-sabu dalam operasi penggeledahan di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Lhokseumawe. Paket ganja kering siap edar tersebut berukuran 2 x 3 sentimeter.

Tim gabungan yang juga melibatkan petugas LP juga menemukan 1 ons biji ganja, alat isap sabu-sabu, serta 30 telepon seluler. Seluruh barang temuan itu telah disita dan diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Operasi penggeledahan merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Setiap LP harus bersih dari HP, pungli, dan narkoba,” kata Kepala LP Lhokseumawe, Drais.

Menurut Drais, ganja dan sabu ditemukan di luar barak 4 A. Sedangkan 1 ons biji ganja dan alat isap sabu-sabu ditemukan di luar sel karantina. Adapun 30 unit telepon seluler ditemukan di dalam barak 9.

Drais menduga narkoba yang ditemukan tersebut kemungkinan bersumber dari pengunjung. Sebab, 60 persen penghuni LP Lhokseumawe adalah mereka yang terlibat kasus narkoba. IMRAN MA| TEMPO.CO|

Tuesday, 8 October 2013

Sejarah Aceh

Unknown     17:00  
Sekitar tahun 1500 lahir Kerajaan samudera Pasai yang oleh sebagian pakar sejarah menganggap sebagai kerajaan Islam pertama di Aceh dab gugusan kepulauan Melayu, ia lahir sebagai negara yang merdeka dan berdaulat pada pertengahan abad ke 13, dengan Sultan pertamanya Malik al-Saleh yang mangkat pada tahun 1297.

Pada zaman gemilangnya ia sangat terkenal bagi negeri-negeri Islam seperti Makkah, Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar dan juga mempunyai hubungan dengan negeri Cina.

Selain menjadi pusat perdagangan ilmu pengatahuan Islam yang sangat penting, selama dua abad ia memainkan peranannya yang amat positif terutama bagi pengembangan Islam ke seluruh kepulauan nusantara.

Sekitar abad 15 Kerajaan ini mengalami kemunduran akibat serangan-serangan luar seperti dari Siam, Majapahit, dan Portugis. Serangan-serangan ini membuat Raja Malik al-Saleh nampak semakin lemah karena di dalam negeri pun terjadi kekacauan dan perebutan kekuasaan secara menyeluruh.

 Akhirnya lahirlah kerajaan-kerajaan kecil sperti Aru, Lamuri, Pidie, Peureulak, Nakur, Beunua (Tamiang), jaya, linge, Aceh Darussalam, Daya, Samudera, dan Pasai sendiri.

Pada tahun 1507 mucullah seorang raja penyelamat dari Pidie yang menyatukan kerajaan-kerajaan kecil dan menggabungkan menjadi satu, Raja Ibrahim yang kemudian terkenal Sultan Ali Mughayyat Syah.

Pada permulaan abad ke 16, Ali Mughayyat Syah (1514-1528) telah menyatukan kembali kerajaan-kerajaan kecil di pinggir pantai utara dan barat seluruh Aceh yang telah dipecah-pecahkan oleh penjajah sebelumnya menjadi satu Negara Islam yang kuat.

 Pada zaman Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636), Aceh telah menjadi negara Asia terkemuka di Asia Tenggara yang menguasai pesisir sebahagian besar Sumatra, daerah Bengkulu, Pariaman, Sungai Indragiri serta kerajaan Kedah, Perak, Pahang dan Terengganu di Semanjung Malaysia.

Hubungan dagang dengan Belanda, Inggris, dan Perancis dengan tertib, baik dan menguntungkan petani-petani Aceh. Pada masa ini pula Aceh termasuk lima besar kekuatan super power dunia yaitu; 

Kerajaan Turki Usmani di Istanbul Asia Minor, Kerajaan  Islam Isfahan di Timur Tengah, Kerajaan Islam Akra di Anak Benua India, dan Kerajaan Islam Aceh Darussalam di Asia Tenggara.

Harga BlackBerry Terbaru

Unknown     09:10  
BlackBerry selalu tampil hebat, kini  menghadirkan perangkat terbarunya,  Terkini, perusahaan asal Kanada itu akan merilis Z30 di Kanada.
 
BlackBerry Z30 telah resmi diumumkan beberapa pekan lalu. Belum diketahui berapa banderol tersebut, hingga bocoran screenshot yang diperoleh dari sumber Mobile Syrup menunjukkan bahwa perangkat anyar ini dibanderol USD700 atau sekira Rp.8 jutaan di Kanada.

Harga USD700 kabarnya bukanlah kontrak, di mana pengguna bisa membayar penuh untuk bisa menggunakan perangkat terbaru dari BlackBerry tersebut. Sementara untuk kontrak, diperkirakan Z30 akan dilepas dengan harga USD149 atau USD199.

Bagi para pengguna BlackBerry di Kanada, handset 5 inci tersebut akan beredar pada 15 Oktober 2013. Masuk dalam golongan Phablet (smartphone-tablet), perangkat ini bisa menampilkan layar 720p serta didukung oleh chipset quad-core.

BlackBerry juga mengandalkan soal kemampuan audio Z30 dengan teknologi “Natural Sound”. Z30 dikatakan sebagai perangkat yang diharapkan dapat menyelamatkan BlackBerry dari ketertinggalan oleh perangkat OS mobile kompetitornya, seperti Android dan iOS.(IM)

Samsung Terbaru, Model Cantik, Harga terjangkau dan Ringan

Unknown     09:05  
Samsung ciptakan notebook dengan desain tipis dan keren. Samsung  ingin membuktikan bahwa sebuah notebook yang langsing dengan desain cantik, bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau. 

Namanya Samsung ATIV Book 9 Lite, Notebook . Desain yang tipis memberikan kemudahan saat disimpan di tas dan tidak capek dalam membawa dalam aktivitas kuliah dan kerja anda. 

 Samsung ATIV Book 9 Lite hadir dengan bodi yang hanya setebal 16,9mm. Cukup tipis untuk diselipkan di tas kerja manapun.Bobotnya juga ringan. Hanya sekitar 1,44 kg sehingga tidak begitu membebani saat harus membawanya bepergian sehari-hari. 

Walaupun tipis dan ringan, ATIV  Book 9 Lite tetap dilengkapi konektivitas yang lengkap. Untuk menghubungkannya ke layar yang lebih besar, guna keperluan presentasi misalnya, notebook ramping ini telah dilengkapi konektor micro HDMI dan VGA mini. 

Juga ada koneksi Ethernet dalam bentuk dongle untuk terhubung ke jaringan, sebagai alternatif koneksi Wi-Fi. Silakan mencoba dengan samsung baru ini. (IM)

Monday, 28 December 2009

Pengungsi yang (Diperintahkan) Tutup Mulut

Unknown     01:09  
Pagi itu, Kamis, 6 Januari 2005. Baru jam 11.00 WIB saat satu mobil yang bertuliskan "PERS" datang dari arah Lhokseumawe tujuan Banda Aceh.

Sampai di Jeunib, Bireuen, mobil merambat pelan sambil menghidupkan lampu samping pertanda hendak berhenti. Ban membelok ke pinggir jalan, tepatnya di depan Meunasah Jeunib.

Di situlah terdapat sebuah lokasi pengungsian. Melihat ada wartawan datang, di sebuah tenda tengah dilakukan sebuah taklimat (pengarahan).

"TNI melarang warga untuk mendekati dan berbicara dengan wartawan, alasannya kehadiran wartawan tidak ada untungnya," ungkap seorang warga menirukan si pemberi taklimat. Tapi para wartawan itu tak merasa apa-apa.

 Salah seorang dengan kamera foto turun dari mobil dan masuk ke gerbang meunasah yang disambut senyum warga di sana, sambil sedikit mengangguk pertanda "silahkan". Ada juga beberapa personel TNI yang bertugas jaga di sana. Tapi mereka tetap memasang muka ramah ke arah wartawan dan bahkan berjabat tangan.

Beberapa wartawan itu sempat juga berbicara beberapa kata dengan tentara itu sebelum akhirnya mereka melangkah menyesuri tenda. Sebagian besar pengungsi mengumbar senyum, tetapi tidak berani mendekat, apalagi berbicara.

Sesuatu yang agak ganjil dalam dua pekan belakangan. Biasanya, wartawan justru menjadi tempat menumpahkan keluh kesah tentang segala pelayanan yang mereka terima di lokasi pengungsian atau bahkan menanyakan sanak saudara, keadaan kampung, bahkan meminjam handphone. Tapi kali ini lain. Seperti tak hirau, para wartawan menjepretkan kameranya.

Dan seperti tak hirau pula, aparat pun terkesan tidak peduli. Setiap kali beradu pandang, mereka tetap memasang senyum. Tapi tak lama kemudian, bila dilirik dengan ekor mata, senyum itu hilang secepat hembusan nafas.

Jepretan kesekian kalinya ditujukan kepada seorang wanita yang sedang duduk termangu, kemudian ke arah beberapa orang yang duduk berkelompok sambil bercerita sesamanya. Si tentara terus memperhatikan tingkah si wartawan, yang sedang berputar mencari gambar.

Ada relawan mahasiswa di sana, yang kabarnya sudah sejak hari Minggu (26/12), setelah mereka selesai mengevakuasi jenazah warga Samalanga yang diterpa tsunami. Mula-mula tak ada tentara di lokasi itu. Para mahasiswalah yang tinggal dan membantu pengungsi sebisanya.

Namun sejak Rabu (29/12), sejumlah personel TNI datang dan membentangkan spanduk asal kesatuan dan mengumumkan bahwa di sana ada posko bantuan milik TNI. Spanduk milik mahasiswa yang semula terlihat di gerbang meunasah itu, kini raib.

 "Spanduk itu ditukar dan digantikan spanduk abang," kata seorang mahasiswa berusaha menyapa akrab pasukan TNI itu. Semua peraturan di kamp itu pun dirombak total. Begitu juga dengan bantuan yang kini harus melalui mereka.

Semua itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang berani membantah. Apalagi, setelah wartawan datang, peraturan bertambah satu, yaitu melarang warga berbicara kepada wartawan. Nasib sial dialami Kek Kaoy yang sudah terlihat tua dan lemah dengan pendengaran yang sedikit terganggu.

Kain sarung yang dipakainya sudah naik sedikit ke atas dan tidak rata antara muka dan belakang. Begitu juga dengan baju kemeja bantuan yang tampak kusut dan terlipat di sana-sini. Dari sudut sebuah tenda ia bangun dengan sedikit gontai, hendak menuju ke samping wartawan yang sedang berdiri mencari informasi, jenis bantuan apa yang masih mereka butuhkan di kamp Meunasah Jeunib itu.

Saat itu, wartawan sedang menanyai Ibu Darmi. Saat itulah Kek Kaoy berusaha mendekat. Tapi langkahnya terhenti. Kening putihnya mengerut dan kakinya mundur ke belakang sebelum akhirnya duduk kembali sambil menunduk.

Seorang personel TNI samar-samar terdengar setengah membentak. "Masuk ke sana, kau!" Setelah insiden itu, Helmi (nama samaran) menerangkan bahwa Kek Kaoy sebenarnya tidak mendengar adanya larangan untuk berbicara kepada wartawan. "Mungkin orang tua itu tidak lagi jelas pendengarannya. Ya gara-gara itu, Kek Kaoy dibentak dan mau ditendang," terangnya.

Helmi sendiri juga mengaku mulai curiga dengan pembatasan terhadap wartawan di kamp pengungsiannya. Apalagi di tempat lain, tidak ada pembatasan seperti ini. Di kamp meunasah Jeunib saat ini ada sekitar 1.120 jiwa yang ditampung.

Mereka adalah warga Pandrah yang mengungsi ke Jeunib. Dengan semua keganjilan ini, tentu saja para wartawan itu saling menggerutu. "Sementara tentara negara asing sekarang membawa seluruh peralatan untuk bisa membuka akses Meulaboh dan sekitarnya, tentara kita masih sibuk melarang-larang wartawan," sungut seorang wartawan. | Reporter: Misrie - Bireuen

Sunday, 27 December 2009

Korban Banjir Aceh Tamiang Belum Tertolong

Unknown     23:55  
Nasional Korban Banjir Aceh Tamiang Belum Tertolong 

Kamis, 20 Januari 2005 | 20:26 WIB 

TEMPO Interaktif, Lhokseumawe: Banjir yang melanda Aceh Tamiang selama 10 hari terakhir, hingga Kamis (20/1) ini masih menggenangi jalur transportasi Medan-Banda Aceh. Akibatnya, ratusan truk pengantar bantuan untuk korban tsunami ke Aceh dan bus penumpang terjebak di beberapa tempat. 

 Banjir yang berlangsung sejak Rabu (12/1) lalu itu juga menyebabkan rumah warga yang berada di sekeliling jalan tembus Medan - Banda Aceh tergenang air. Kondisi ini memaksa 40.000 warga di kawasan itu mengungsi ketempat yang lebih tinggi dan membuat tenda darurat. Dari pemantauan Tempo, terdapat delapan kecamatan yang tergenang banjir di Kabupaten Aceh Tamiang (hasil pemekaran Aceh Timur). 

Yakni kecamatan Kejuruan Muda, Tamiang Hulu, Karang Baru, Rantoe, Seruway, Bendahara dan Kuala Simpang. Sedangkan yang lolos dari banjir adalah Kecamatan Manyak Payet. Pejabat sementara Bupati Aceh Tamiang, H. Ishak Juned mengatakan pihaknya sudah melakukan tindakan darurat untuk korban banjir yang mengungsi ketempat yang lebih aman. 

Namun hasil penelusuran Tempio di sejumlah titik banjir, di sepanjang jalan lintas Medan-Banda Aceh, tidak terlihat aparat maupun tim penanggulanggulangan bencana berada di lokasi tersebut. Begitu juga tidak terlihat bantuan alternatif untuk mengevakuasi para korban banjir. ?

Kami sekarang mana ada yang peduli, sudah 10 hari tidak satupun mereka yang datang menjenguk kami, di jalan juga mereka tidak melakukan tindakan apa-apa. Lihatlah warga sangat susah, maunya kan bisa mengerahkan alat berat yang bisa melewati air dan membantu warga, sementara besok Lebaran Idul Adha Imran MA | Tempo

Buah Gerilya Panglima Sagoe

Unknown     23:41  
Bergerilya ke desa-desa menjaring suara, panglima Sagoe dan aktivis Sira adalah mesin kemenangan Irwandi dan Nazar dalam pilkada Aceh pada awal pekan lalu. 

Rapat itu berlangsung di sebuah rumah kecil di Muara Dua, Lhokseumawe, beberapa saat sebelum kampanye pemilihan gubernur Aceh digelar pada awal Desember.

Dua puluh anak muda meriung di lantai. Mereka adalah mantan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan aktivis Sidang Istimewa Rakyat Aceh (SIRA). Agenda pertemuan malam itu membahas siasat merebut kursi gubernur dan walikota Lhokseumawe. Jelang pagi kesepakatan diketuk. Semua kader diwajibkan bergerilya ke ke desa-desa untuk menjual sang calon mereka.

Sejak saat itu anak-anak muda ini naik- turun naik gunung membina kader sekaligus merebut simpati untuk Irwandi. Taktik ini mereka terapkan di seluruh Aceh. Hasilnya? Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar yang dijual para panglima Sagoe unggul dalam pemilihan kepala daerah Nangroe Aceh Darusslam.

Panglima Sagoe adalah suatu struktur militer GAM—setingkat Komando Rayon Militer (Koramil) dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia. Hingga Jumat pekan lalu, Irwandi dan Nazar meraup 27 persen dari satu juta suara yang sudah masuk ke panitia pemilihan. Jumlah itu jauh di atas pasangan Humam Hamid yang duduk di posisi kedua dengan perolehan sekitar 18 persen suara.

Irwandi menang di 15 dari 21 kabupaten di Aceh. Walau jumlah suara yang belum masuk sekitar satu setengah juta, sejumlah pihak meramalkan pasangan Irwandi dan Nazar bakal keluar sebagai pemenang.

Di Lhoksumawe, Munir Usman dan Suadi Yahya yang di usung GAM juga dipastikan bakal menjadi walikota. Calon GAM juga dipastikan merebut kursi bupati di tujuh kabupaten. Jakarta seperti meriang mendengar hasil dari Naggroe.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung menggelar rapat kabinet bidang politik dan kemanan. Beberapa saat sebelumnya, sejumlah lembaga yang menggelar perhitungan cepat mengumumkan keunggulan Irwandi dan Nazar. Sumber Tempo yang dekat dengan Istana menuturkan, Presiden gusar dengan kemenangan kandidat GAM.

Presiden kabarnya sempat marah karena para bawahannya selama ini selalu melaporkan bahwa kekuatan Irwandi itu kecil. ”Selama ini Presiden selalu terima laporan yang asal bapak senang,” kata sumber tersebut. Andi Maranggeng, juru bicara Presiden, membantah hal ini. ”Tidak benar Presiden marah dengan kemenangan Irwandi,” katanya Presiden Susilo, sambungnya, senang karena pilkada di Aceh berlangsung aman.

Tapi kecemasan tetap saja merebak sebab hingga kini GAM masih berdiri tegak. Karena itu mereka mendesak jika sudah jadi gubernur, Irwandi harus membubarkan GAM, yang selama ini bercita-cita memerdekakan Aceh. Irwandi, kata Muladi–Gubernur Lemba-ga Ketahanan Nasional (Lemhanas) harus membubarkan GAM jika sudah jadi gubernur. Kalau tidak mau, dia menambahkan, ”Komitmen Irwandi terhadap negara kesatuan Republik Indonesia diragukan.” Membubarkan GAM tampaknya bukan urusan gampang bagi Irwandi.

Sebab jaringan gerakan inilah yang menjadi mesin utama kemenangannya. Hampir seluruh anggota tim sukses Irwandi ditingkat propinsi juga petinggi GAM. Sofyan Dawood, juru bicara GAM, yang dulu kerap memimpin pertempuran melawan militer Indonesia, adalah penasehat dan juru kampanye Irwandi ”Saya pilihkan kandidat yang paling pantas memimpin Aceh,” pekiknya dengan lantang.

Sofjan Dawood juga amat berjasa memotong dukungan tetua GAM di Swedia untuk pasangan Humam Hamid dan Hasbi Abdullah. Sehari setelah kampanye pemilihan gubernur dimulai, Muzakir Manaf-Panglima militer GAM- menggelar siaran pers. Isinya, membatalkan dukungan untuk Humam. Dalam siaran pers itu Muzakir memang ”hanya” mengatakan bahwa pimpinan GAM menyerahkan pilihan kepada rakyat. Toh, sejak saat itu warga lapisan bawah kian leluasa menyokong Irwandi.

Di tingkat kabupaten dan kecamatan, mesin utama Irwandi adalah para panglima Sagoe. Mereka bergerilya hingga pegunungan untuk menjelaskan pentingnya memilih Irwandi dan Nazar sebagai pemimpin Aceh. Kesuksesan gerilya para panglima itu berkat sokongan penuh dari aktifis SIRA yang juga memiliki stuktur yang kuat hingga ke tingkat kecamatan.

 ”Kami mengumpulkan seluruh komisariat SIRA kecamatan mendukung pasangan ini,” ujar Abu Zar Marzuki ketua Konsulat Sira Wilayah Pasee, Aceh Utara. Sidang Istimewa Rakyat Aceh (SIRA) memang amat populer di kalangan anak muda.

Terutama, mahasiswa di seantero Aceh. Organisasi ini lahir dari kampus. Bermula dari Kesatuan Mahasiswa Aceh tahun 1998 yang menuntut 80 persen dari hasil bumi provinsi itu digunakan untuk daerah. Beberapa bulan kemudian para mahasiswa mengubah nama gerakannya menjadi Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh (Karma).

Organisasi ini adalah gabungan 42 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di seluruh Aceh. Tuntutan mereka sama saja. Delapan puluh persen hasil bumi Aceh kembalikan ke Tanah Rencong. Merasa tuntutan itu tidak dipenuhi juga mereka mengancam menggelar referendum. Sejak itu, gerakan kaum muda ini berubah menjadi gerakan politik.

Mereka bergabung dengan Komite Pemuda Aceh Serantau (KNPAN) menggelar Kongres pemuda Aceh. Isinya, menuntut referendum. Kongres juga bersepakat membentuk SIRA, sebuah organisasi baru leburan dari semua kelompok gerakan. 

Muhammad Nazar, yang kini berpasangan dengan Irwandi Yusuf terpilih sebagai koordinator gerakan baru. Di bawah Nazar SIRA dengan cepat membiak. Mereka mendirikan enam ribu posko mahasiswa di seluruh Aceh.

Hampir semua penggeraknya mahasiswa dan pemuda. Nazar berkali-kali menggelar pertemuan akbar yang melibatkan massa dalam jumlah ribuan. Tanggal 8 November 1999, dia melangsungkan Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum Aceh (SU-MPR), di Banda Aceh.

Sekitar 20 ribu kebih manusia tumpah di acara ini. Dua tahun kemudian kelompok ini menggelar Sidang Istimewa Rakyat Aceh (Sira-Rakan) dihadiri sekitar 25 ribu orang. Sejak saat itu Muhammad Nazar mulai berkilau dikalangan gerakan mahasiswa dan pemuda Aceh.

Ketika Irwandi Yusuf dan Muham-mad Nazar bergabung dalam perebutan kursi gubernur, sejumlah kalangan menyebut keduanya ibarat persekutuan dua partai besar. Hasilnya, mereka mampu mengalahkan calon yang diusung partai-partai politik yang pernah menjulang di Aceh. Seperti Partai Persatuan Pembangunan(PPP) dan Partai Golkar.

Bertahun-tahun gagal dengan perjuangan senjata, para panglima Sagoe ternyata mampu bermain dengan gemilang di latar politik. Dan Irwandi punbersiap melangkah ke kursi gubernur Wens Manggut (Jakarta), Eduardus Karel Dewanto dan Adi Warsidi (Banda Aceh), Imran MA (Lhokseumawe)

Sembarang Tangkap Gerilyawan Peurelak

Unknown     23:38  
Para tahanan GAM cuma warga kampung biasa. Perlindungan keamanan dari ICRC dan PMI jadi "tiket" hidup mereka. AIR mata Aisyah, 30 tahun, mengucur tak terbendung.

Ibu lima anak itu cuma bisa menatap sayu Syahbali, yang tergolek ringkih di Rumah Sakit Cut Meutia, Kota Langsa, Aceh Timur, Selasa lalu. Seolah tak percaya belahan jiwanya pulang selamat, tak bosan ia membelai tubuh suaminya itu. 

Sepuluh purnama sudah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merenggut kebahagiaan mereka. Kenangan wanita hitam manis pengidap epilepsi itu pun menerawang ke bulan-bulan awal setelah Syahbali "raib". 

Pencarian ke sana-kemari tak membuahkan hasil. Tangis sedih handai-taulan siang dan malam tak mampu mengembalikan suami tercinta. Cuma doa dan harapan jadi tempat bergantung. Kenduri buat orang mati pun nyaris disiapkan.

 "Tapi para tetangga melarang," kata Aisyah kepada TEMPO. Syahbali, 40 tahun, ditangkap GAM wilayah Peurelak, Aceh Timur, pada 20 Juli tahun lalu di perbatasan Desa Matang Seuleumak dan Pulo U. 

Ketika itu ia dalam perjalanan menuju rumah warga buat menebang pohon. Ia tak punya pekerjaan tetap, kadang menebang pohon, kadang diupah memetik kelapa. 

Warga Matang Seuleumak, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur, itu tak pernah memilih majikan: order bekerja di kantor Komando Rayon Militer (Koramil) ataupun di kebun kelapa sawit milik anggota TNI pun disabet. Tiba-tiba langkahnya dihentikan dua orang tak dikenal. 

"Mereka menyuruh saya naik sepeda motor," ujar Syahbali. Setelah menutup matanya dengan sehelai kain, mereka tancap gas ke daerah pegunungan, belasan kilometer dari desanya. 

Sampai di "markas" GAM, ia diberondong pertanyaan soal kedekatannya dengan TNI. Rupanya, Syahbali dituduh sebagai informan tentara yang memata-matai GAM. Tuduhan mereka tak terbukti. Tapi Syahbali tetap ditawan. Puluhan kali ia diajak berpindah tempat tanpa tahu letaknya secara pasti. Hanya hutan dan pohon-pohon raksasa yang tertangkap mata. Hari demi hari terlewati bersama dua sampai tiga tentara GAM yang menjaganya. 

Tidur beralas plastik atau di ayunan yang tertambat di dua batang pohon. Obat nyamuk bakar tak lupa disulut. "Tak ada penyiksaan. Apa yang mereka makan, itu juga yang saya makan," tuturnya. Selama ditawan, belum pernah ia bertemu Panglima GAM wilayah Peurelak, Teungku Ishak Daud, ataupun tahanan lain. 

Meski bergaul berbulan-bulan dengan gerilyawan GAM, belum pernah Syahbali mendengar daerah asal ataupun keluarga mereka. Sampai pada 15 Mei silam, Syahbali diajak "pengawal"-nya hengkang dari lokasi karena ada kabar TNI bakal menyerang. Ia kembali melakoni perjalanan dari bukit ke bukit. Esok harinya, mereka berhenti di Desa Lhok Jok, Kecamatan Peudawa Rayeuk, Aceh Timur. 

Di tempat itulah "kisah petualangan"-nya bersama GAM berakhir. Kelompok penuntut kemerdekaan Aceh itu menyerahkannya kepada negosiator dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan Palang Merah Indonesia (PMI). Sehari sebelumnya, ICRC dan PMI menerima 22 warga yang semula meminta perlindungan ke GAM. 

Di situ Syahbali baru bertemu dua tahanan lainnya: kamerawan RCTI Ferry Santoro dan Mustafa, 30 tahun, warga Desa Tempok Dalam, Kecamatan Nurussalam. Mustafa dicokok GAM sehari sebelum Syahbali, di Desa Bantayan. Tukang ojek itu tak tahu pasti kenapa GAM menahannya. "Mungkin karena saya sering mangkal di kantor Koramil Bagok, Kuta Binje," ujarnya. Suami Sawiyah, 24 tahun, itu merasa "nyaman" selama jadi tahanan. 

GAM tak pernah memukul, paling-paling sering berpindah tempat lantaran menghindari serangan TNI. "Kan enak di sini, bisa gemuk," kata Mustafa menirukan penuturan seorang gerilyawan GAM. Rabu lalu ia pulang ke kampungnya, diantar sejumlah tetangganya dan petugas PMI. Sudah tak kerasan ia di tempat penampungan sementara, ingin segera bertemu anaknya yang baru berumur setahun ketika ditinggalkan. 

Ada ratusan orang di penampungan sementara di Gedung Pramuka, belakang kantor Koramil Kota Langsa. Cuma beberapa yang bisa disebut tahanan GAM. Sisanya: pencari suaka, keluarga tahanan yang mau menjemput, dan warga yang tertipu oleh isu pengobatan gratis. Jumlah mereka terus menyusut karena secara bergelombang dipulangkan ke desa masing-masing. 

Selasa lalu, PMI memulangkan 14 orang ke Kecamatan Peurelak. Esok sorenya 10 orang lagi diantar ke desa-desa di Kecamatan Nurussalam, Idi Cut, dan Idi Rayeuk. Lalu, Kamis sekitar pukul 16.00, 139 orang dikumpulkan di kantor Kecamatan Peudawa. Sebanyak 103 orang disuruh pulang sendiri ke desa masing-masing, sisanya diperiksa di Markas Polres Aceh Timur karena dituduh terlibat gerakan separatisme. 

Namun, 103 orang itu malah menolak pulang sambil menangis menggerung-gerung. Mereka memilih dianggap terlibat GAM dan diadili ketimbang dibiarkan sendirian pulang kampung. Mereka mau pulang kalau diantar ICRC dan PMI, sebagai pihak yang dipercaya GAM menerima mereka. "Mereka takut pulang," kata Kepala Polres Aceh Timur, AKBP Ilrsanuddin. 

Ketakutan mereka memang beralasan. GAM mau melepaskan para tahanan dan pencari suaka karena ada jaminan perlindungan dari ICRC dan PMI. GAM sendiri, sebetulnya, merasa kerepotan jika mesti bergerilya bersama warga sipil. Pernah pada awal darurat militer, GAM membebaskan Jamaluddin, 27 tahun, warga Simpang Ulim, Kecamatan Pante Bidadari, Aceh Timur. 

"Sampai di desanya, Jamal dijadikan informan TNI, lalu hilang," ujar Teuku Cut Kafrawi, juru bicara Ishak Daud. Posisi mereka memang serba salah. Dulu, mereka terpaksa minta perlindungan kepada GAM karena takut dikejar TNI yang menuduh mereka antek GAM. 

Kini, setelah lepas dari perlindungan GAM, lebih mudah lagi bagi aparat memberi mereka stempel "pro-GAM". Contohnya Hamid?bukan nama sebenarnya?yang berlindung ke GAM sejak enam bulan silam. Warga Kecamatan Peurelak Barat berusia 54 tahun itu dituduh menyembunyikan anggota GAM. Ia mengaku sedang tak di rumah ketika anggota GAM yang akan menyerahkan diri itu datang. 

Tapi tentara di pos marinir di desanya tak percaya, dan tetap menggebukinya. Masalah rupanya belum tuntas, karena tentara terus mencari dia. Merasa tak aman, ia pun "lari". Begitu pula Arief?juga nama samaran. Ayah dua anak itu dituduh membantu GAM sejak darurat militer di Nanggroe Aceh Darussalam. 

Bahkan namanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) di pos militer kawasan Desa Paya Gajah, Peurelak. Hampir tiap malam tentara menyambangi rumahnya buat menginterogasi. Merasa terancam, ia meninggalkan kegiatan bertani tambak, lalu minta pengayoman ke GAM. 

"Saya sampai menangis ketika seorang panglima GAM menolak melindungi," ujar pria 35 tahun itu, Rabu lalu. Akhirnya, GAM menerima Arief. Tapi, pada 8 Mei silam, GAM memintanya "turun" karena ICRC bakal menjemput sekaligus melindungi keselamatannya. Ia langsung setuju, apalagi mendengar kabar istrinya mendapat perlakuan kasar dari aparat.

 "Tapi saya tak mau pulang kalau tiada jaminan keamanan dari ICRC," tuturnya. Lepas dari GAM bukan berarti masalah jadi beres. Selain soal keamanan, kesulitan ekonomi dan sosial sudah menunggu. 

Pun Syahbali cuma tercenung menatap hari depan lantaran tak ada yang bisa dikerjakan selepas dari tawanan GAM. "Istri saya bilang, beras pun tak ada di rumah," ujarnya dengan wajah kusut. 

Jobpie Sugiharto dan Imran M.A. (Langsa)

Kalah Start Ditikam Jejaknya

Unknown     23:32  
Andil besar Jusuf Kalla dalam perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh tak otomatis berimbas pada dukungan. Kendala mesin politik dan logistik. 

Kepala sekretariat tim pemenangan calon presiden Jusuf Kalla dan calon wakil presiden Wiranto Sulawesi Tengah, M. Iqbal Andi Maga, sering uring-uringan. Usai pencontrengan, Rabu pekan lalu, Iqbal tak mau lagi menonton televisi. 

Ia mengaku, setiap kali menyalakan televisi yang dilihatnya perolehan suara JK-Wiranto yang jeblok, tensi darahnya langsung naik. ”Ini di luar perkiraan. Sungguh mati!” kata Iqbal kepada Tempo, Jumat pekan lalu. 

Seluruh tim pemenangan JK-Wiranto di Sulawesi Tengah pun, menurut Iqbal, masih tak percaya JK kalah. Sulawesi Tengah sudah seperti kampung sendiri bagi JK. Apalagi ia berjasa besar bagi rakyat di sana karena perannya meredam konflik SARA di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa tahun silam. 

Tim pemenangan, kata Iqbal, bahkan menargetkan 60 persen dari 1,7 pemi­lih di Sulawesi Tengah bakal mencontreng JK-Wiranto. Tak hanya Sulawesi Selatan, JK-Wiranto memang menggarap Sulawesi Tengah, Maluku, dan Nanggroe Aceh Darussalam sebagai lumbung suara di pemilu presiden. 

Dukungan di tiga daerah itu mestinya besar karena, ”JK punya andil besar dalam proses perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh,” kata wakil ketua tim pemenangan JK-Wiranto, Fahrul Rozi. Hitungan tim sukses JK-Wiranto, di Poso dan Ambon bisa menang, sementara di Aceh berimbang dengan SBY. ”Di Aceh kita pun optimistis bisa 60 persen,” kata ketua tim pemenangan JK-Wiranto Fahmi Idris. 

Tapi, nyata­nya, perolehan suara dalam pemilu presiden 8 Juli 2009 tak menggembirakan. Hitung cepat Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, misalnya, menyatakan JK-Wiranto kemungkinan hanya beroleh 34,08 di Sulawesi Tengah, 17,99 persen di Maluku, dan 4,46 persen di Aceh. 

Sementara SBY-Boediono 57,45 persen di Sulawesi Tengah, dan 63,72 persen di Maluku, dan 90,97 persen di Aceh. Iqbal mengakui, terbuai tren popularitas dan elektabilitas JK yang terus menanjak, timnya jadi terlalu percaya diri jagoan mereka bakal lolos ke putaran kedua.

 Akibatnya, tim sukses tak ngotot bekerja di Sulawesi Tengah. Dana pun tak banyak digelontorkan. ”Asumsinya, (logistik) dihemat untuk kampanye putaran kedua nanti,” kata Iqbal. 

Blunder kedua, kata Iqbal, adalah reaksi berlebih masyarakat Sulawesi Selatan menanggapi isu SARA yang dilontarkan Ketua Partai Demokrat Andi Mallarangeng. Reaksi itu justru kontraproduktif. Akibatnya—serasa menguak luka lama bagi rakyat Poso—ketika isu Bugis-isme itu mengental, semua jadi buyar. 

 Sedangkan di pihak SBY-Boediono, tim suksesnya bekerja all out. Bagi mereka, Poso harus direbut dari JK. Sekretaris tim pemenangan SBY-Boediono Sulawesi Tengah, Henry Kawulur, mengatakan timnya gencar menyuarakan perdamaian Poso adalah kerja tim di bawah SBY sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan saat itu. 

”Terbukti pemilih makin cerdas, tak mau terjebak secara emosional,” ujarnya. Di Maluku, SBY-Boediono juga tak tertandingi. Menurut ketua tim sukses SBY-Boediono Maluku, Elwen Roy Pattiasina, timnya telah mengkampanyekan SBY for President sejak pemilu legislatif. Sejumlah bupati di provinsi seribu pulau ini pun terlibat langsung dalam tim SBY-Boediono. 

Tak lupa dalam mendongkrak dukungan tim sukses juga menjual isu perdamaian. ”Terbukti, selama lima tahun pemerintahan (dipimpin SBY), Maluku betul-betul kondusif,” kata Elwen. Sedangkan Jusuf Kalla, yang besar perannya mendamaikan konflik di Ambon, tak kebagian banyak. JK kalah start, dan mesin politiknya pun tak mampu mengimbangi lawan. 

Aceh lebih mengagetkan lagi. Prediksinya, JK dan SBY—dwitunggal yang dianggap berjasa bagi perdamaian Aceh—bakal berbagi suara. Ternyata, hasilnya begitu jomplang. Perhitungan Komisi Independen Pemilihan Aceh, per Jumat pekan lalu, SBY-Boediono beroleh 93,02 persen dan hanya menyi­sakan 4,55 persen untuk JK-Wiranto. Koordinator wilayah Aceh tim pemenangan SBY-Boediono, Ahmad Farhan Hamid, pun mengaku tak habis pikir. ”Saya juga terkejut bisa sampai 90 persen, perkiraannya paling 70-80 persen,” kata Farhan. 

Menurut dia, penetrasi tim JK-Wiranto sangat kuat. Apalagi JK secara khusus berkampanye di Aceh dan bertandang ke markas Partai Aceh, sementara SBY tidak. Namun, kata Farhan, timnya berhasil membalikkan arus dukungan JK kembali kepada SBY. ”Ada pendekatan kepada elite Aceh, terutama eks Gerakan Aceh Merdeka, pada satu-dua hari menjelang pencontrengan,” kata Farhan. 

Ia menilai orang Aceh melek politik sehingga mereka memilih SBY-Boediono, yang peluang menangnya lebih besar. ”Mereka ingin menunjukkan kontribusi (ke SBY),” kata dia. Kegagalan JK-Wiranto karena gagal memegang komitmen dukungan riil Partai Aceh partai lokal yang ”berkuasa”. 

”Di Aceh itu, siapa yang memegang Partai Aceh, dialah yang bakal menang,” kata Fahrul Rozi. Ia menduga peta pemilu presiden tak berbeda dengan pemilu legislatif. Di pemilu legislatif, Partai Aceh dengan Demokrat bekerja sama supaya menang dalam pemilu. Di tingkat lokal mereka berkampanye untuk memenangkan Partai Aceh, sementara tingkat nasional untuk Partai Demokrat.
 

Hasilnya, untuk DPR Aceh mayoritas dikuasai Partai Aceh, sementara DPR pusat mayoritas untuk Demokrat. ”Sekarang mereka bersama memenangkan (SBY-Boediono),” kata dia. Ketua Partai Demokrat Aceh yang juga ketua tim kampanye daerah SBY-Boediono, Nova Iriansyah, mengakui peran Partai Aceh. Hampir semua ka­der Partai Aceh di tiap kabupaten/kota bekerja untuk SBY-Boediono. ”Tapi itu personal, bukan kelembagaan partai,” kata Nova. 

Semua lini dikuasai SBY-Boediono. Tak cuma Partai Aceh, Partai SIRA, Partai Bersatu Atjeh, Partai Aceh Aman Sejahtera, dan Partai Daulat Atjeh juga merapat. Bahkan Gubernur Irwandi Yusuf dan wakilnya, M. Nazar, terlibat sebagai dewan pakar tim SBY-Boediono di Aceh. Belum lagi 19 partai nasional yang tergabung dalam koalisi. Juru bicara Partai Aceh, Adnan Beu­ransyah, mengatakan partainya­ netral. 

”Tidak etis mendukung salah satu,” kata Adnan. Alasannya, partai­ serba salah mau memilih SBY ataukah JK, yang sama-sama berjasa dalam perdamaian Aceh. Tak ada instruksi partai meski di lapangan banyak kader gabung dengan SBY-Boediono. 

Ketua tim pemenangan JK-Wiranto, Fahmi Idris, mengatakan salah satu penggerus dukungan JK-Wiranto di Po­so, Ambon, dan Aceh adalah tak optimalnya mesin partai dan keterbatasan logistik. ”Apalagi rival menggunakan taktik 'menikam jejak' (SBY-Boediono menyusuri track kampanye JK-Wiranto untuk merebut pemilih),” kata Fahmi. 

Menurut dia, ”menikam jejak” adalah taktik biasa dalam politik, sayangnya pihaknya kalah bekal. ”Kalau dana kita besar, kan kita bisa menyusur balik ke sana (untuk merebut kembali),” kata Fahmi. Selain itu, ia menduga banyak terjadi kecurangan. 

Ipang Wahid, konsultan politik yang menggarap advertasi JK-Wiranto, mengaku sulit menyampaikan keunggulan JK sampai ke masyarakat bawah dalam waktu singkat. ”Pak JK luar biasa tapi memang orang masih lebih suka yang presidential look,” kata Ipang. 

Agus Supriyanto (Jakarta), Adi Warsidi (Banda Aceh), Imran M.A. (Lhok Seumawe), Darlis Muhammad (Poso), Mochtar Touwe (Ambon)

Saturday, 17 January 2009

Misy’al : Situasi Pasca Perang Akan Berubah

Unknown     22:59  
Damascus-Infopalestina : Ketua Biro Politik Hamas, Kholid Misy’al menegaskan situasi paska perang di Gaza akan berbeda, mengingat gambaran yang ada saat ini dipenuhi kemuliaan, kebanggaan dan kejayaan. 

Pernyataan ini diungkapkan Misy’al dalam pidatonya di depan sejumlah delegasi rakyat Palestina di Damascus kemarin (15/1). Setidaknya ada dua gambaran saat ini yang nampak di Gaza.

 Pertama, gembaran kemuliaan, kebanggaan, kejayaan. Gaza dipenuhi dengan aksi kepahlawanan yang telah membungkam kesombongan Zionis. Gaza akan membuat sejarah baru. Situasi Gaza paska perang akan berbeda dengan sebelumnya. 

Gambaran kedua, pemandangan kepedihan yang tidak bisa tidak kita alami. Kita merasa pedih dan sedih. Namun kemenangan sangat mahal dan keridloan Allah pun mahal. Kondisi ini sangat keras, hari kita berkeping-keping, namun hal tidak akan membuat kita berhenti melakukan perlawanan. Misy’al menegaskan, apa yang dilakukan serdadu Zionis merupakan implikasi dari kegagalanya dan gambaran dari kehilangan kesadaranya. 

Mereka telah mengobarkan api perlawanan. mereka telah kehilangan akal, karena mereka telah gagal di lapangan. Sementara perlawanan melumpuhkan kesombonganya. Pemimpin Hamas ini mengisyaratkan, Zionie Israel telah mulai janjinya melakukan pembantaian dengan tujuan memberangus masalah Palestina.

 Zionis Israel saat ini, yang katanya memperoleh kemenangan tidak akan dapat menghancurkan Hamas ataupun perlawanan Palestina. kerugian di pasukan perlawanan lebih sedikit dibanding serdadu Zionis. 

“Kita yakin Allah bersama kita, karena kitalah pemilik masalah ini, karena kita dizalimi. Pertempuran ini adalah kewajiban kita. Rakyat Palestina akan menjadi seperti yang disangkakan ummat Islam saat ini”, tegas Misy’al. (asy)

Israel Lakukan Kontak Rahasia dengan Spanyo

Unknown     22:56  
Israel Lakukan Kontak Rahasia dengan Spanyol Infopalestina: Harian Israel Yedeot Aharonot, seperti dikutip harian berbahasa Arab yang terbit di London, al Hayah, edisu 4 Oktober 2008, menyebutkan bahwa Israel dan Spanyol dalam bulan-bulan terakhir sedang melakukukan kontak rahasia secara intensif untuk melakukan kompromi “kebuntuan politik” yang disebabkan oleh dakwaan yang disampaikan organisasi HAM di Spanyol 3 bulan lalu di hadapan mahkamah Sepanyol agar mengeluarkan perintah penangkapan terhadap 7 tokoh us yang terlibat dalam kejahatan perang dalam aksi pembantaian pemimpin Hamas Syaikh Shalah Syahadah. Daftar tokoh yang diburu untuk ditangkap adalah mantan PM Israel Ariel Sharon, Benyamin bin Eliazer yang saat terjadi pembantaian menjabat sebagai menhan Israel dan saat ini menjabat sebagai menteri insfrastruktur (dari Partai Buruh), Shaul Mofaz yang kala itu menjabat sebagai kepada staf Angkatan Besenjata Israel, Evi Dickner yang kala itu menjabat sebagai kepada dinas intelijen umum Israel dan saat ini sebagai menteri keamanan dalam negeri Israel, Dan Halots yang saat itu menjabat sebagai kepada staf Angkatan Udara Israel yang kemudian diangkat sebagai kepada staf Angkatan Besenjata Israel, dan sejumlah jenderal dan komandan yang ikut serta dalam aksi pembantaian tersebut. Yedeot Aharonot mengatakan pemerintah Spanyol terakhir telah mengirim surat rahasia kepada pemerintah Israel yang memuat sejumlah pertanyaan berkaitan dengan cara Israel mengatasi persoalan ini. Aharonot melanjutkan bahwa Israel menggap surat dari Spanyol ini sangat penting dan diprediksi respon jawaban atas surat tersebut akan berpengaruh pada cara Spanyo mengatasi dakwaan tersebut. Harian Israel ini menambahkan Israel memperkirakan pemerintah Spanyol akan menanggalkan dakwaan hukum ini seperti yang dilakukan pemerintah Inggris saat merespon dawaan serupa terhadap para komandan seniornya di militer Israel. Aharonot menyebutkan bahwa departemen luar negeri Israel, begitu dakwaan itu diajukan ke mahkamah Spanyol, segera mengeluarkan perintah kepada para tokoh yang masuk dalam daftar tuduhan sebagai penjahat perang untuk tidak bepergian ke Spanyol khawatir ditangkap pihak berwenang di Spanyol. Spanyol adalah anggota Mahkamah Pidana internasional di Den Hague dan mengadopsi hukum yang memberikan kesempatan mengajukan dakwaan terhadap pelaku kejahatan perang. (seto)

Sunday, 28 December 2008

Pangdam Iskandar Muda: Pemerasan oleh GAM Meningkat

Unknown     00:47  
Pangdam Iskandar Muda: Pemerasan oleh GAM Meningkat Kamis, 20 Oktober 2005 | 17:22 WIB TEMPO Interaktif, Lhokseumawe:Pangdam Iskandar Muda Supiadin A.S. menyebutkan walaupun damai sudah berlangsung di Aceh, pemerasan dan tindakan kriminal terhadap masyarakat meningkat. Ia mengaku hampir tiap hari menerima laporan adanya tindak pemerasan yang dilakukan sekelompok orang di dalam masyarakat. Karena itu ia berharap masyarakat melapor ke polisi atau kepada tim Aceh Monitoring Mission (AMM). "Banyak kasus kriminal, pemerasan, tapi masyarakat belum berani datang dan melapor kepada AMM," kata Supiadin kepada wartawan di Pelabuhan Kreung Geukuh Lhokseumawe, seusai melepas pemulangan 1.499 TNI ke gugus tugas asal, Kamis (20/10). Mereka yang dipulangkan berasal dari Batalyon 712 Wira Tama, sebanyak 488 personil, 743 Pratnya Sama Prayuda (433), Batalyon 623 Bhakti Wira Utama (433), Kompii Paskhas 1 (125) , dan Skuadron (20 personil). Supiadin juga mensinyalir ada provokasi terhadap masyarakat oleh anggota GAM saat melakukan sosialisasi damai di meunasah-meunasah desa. Ia menyebut kejadian di Pidie dan Kabupaten Aceh Utara. Menyikapi soal itu Ketua AMM Pieter Fieth, mengaku setiap laporan yang diterima akan didiskusikan kedua pihak. AMM telah mengimbau GAM untuk mengantisipasi anggotanya di lapangan mengakhiri tindakan tersebut. Irwandi Yusuf, wakil GAM di AMM, mengatakan akan menyerahkan persoalan kriminal ke polisi. Sebaliknya, ia mengungkapkan masyarakat dan mantan GAM yang sudah kembali ke desa di Kabupaten Bireuen mulai ketakutan. Sebab, TNI mempropagandakan bahwa MoU lemah dan bersifat sementara. Karena itu masyarakat diingatkan untuk tidak berhubungan dekat dengan GAM. “Nanti akan ditangkap lagi," ujar Irweandi mengutip isi propaganda. Imran M.A.

Popular Post